Ini Kampus Presiden Indonesia dari Soekarno Hingga Jokowi

Ini Kampus Presiden Indonesia dari Soekarno Hingga Jokowi
0 Shares

Dunia kampus selalu menarik untuk dibahas, apalagi jika berkaitan dengan jejak-jejak para Presiden Indonesia, mulai dari Sukarno hingga Jokowi. Bagi yang berhasil lolos seleksi SNBP, SNBT dan seleksi mandiri, mereka akan memasuki gerbang baru kehidupan akademik di perguruan tinggi. Tentu saja, menjadi mahasiswa di perguruan tinggi negeri adalah suatu kehormatan, apalagi jika kampusnya sama dengan tempat belajar para pemimpin bangsa.

1. Soekarno

Soekarno adalah seorang mahasiswa teknik sipil di TH Bandung (kini ITB), sebuah perguruan tinggi bergengsi di Indonesia. Dia sempat mengundurkan diri dari kuliahnya setelah dua bulan, namun kembali mendaftar pada tahun berikutnya dan berhasil menyelesaikan studinya pada tahun 1926.

Pada tanggal 3 Juli 1926, Soekarno mendapatkan gelar insinyur dalam upacara Dies Natalis ke-6 TH Bandung. Dia adalah salah satu lulusan pertama dari jurusan teknik sipil dan juga salah satu lulusan terbaik dengan nilai rata-rata 8,25. Gelar insinyur ini kemudian sering digunakan oleh Soekarno sebagai bagian dari namanya, yaitu Ir. Soekarno.

2. BJ Habibie

Habibie adalah seorang mahasiswa teknik mesin di ITB, sebuah perguruan tinggi terkemuka di Indonesia. Dia hanya menghabiskan waktu setengah tahun di sana, karena pada tahun 1955 dia melanjutkan studinya di Jerman Barat. Dia memilih jurusan teknik penerbangan dengan fokus pada konstruksi pesawat terbang di RWTH Aachen, salah satu universitas teknik terbaik di Eropa.

Pada tahun 1960, Habibie berhasil meraih gelar diplom ingenieur (setara dengan sarjana) dengan nilai sempurna. Lima tahun kemudian, dia mendapatkan gelar doktor ingenieur (setara dengan doktor) dengan predikat summa cum laude, yang berarti lulus dengan pujian tertinggi. Habibie adalah orang Indonesia pertama yang mendapatkan gelar doktor di bidang teknik penerbangan. Gelar-gelar ini menunjukkan kecerdasan dan keahlian Habibie dalam bidangnya.

3. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Gus Dur adalah sebutan akrab untuk Presiden Indonesia keempat, Abdurrahman Wahid. Dia adalah seorang intelektual muslim yang menempuh pendidikan tinggi di luar negeri. Pada tahun 1963, dia mendapat kesempatan untuk belajar di Universitas Al Azhar di Kairo, Mesir, salah satu pusat ilmu pengetahuan Islam tertua di dunia. Dia mendapatkan beasiswa dari Kementerian Agama untuk mengikuti program Studi Islam di sana.

Namun, nasib tidak berpihak padanya. Pada tahun 1966, dia diberitahu bahwa dia harus mengulang studinya karena nilai-nilainya tidak memuaskan. Gus Dur tidak mau menyerah. Dia memutuskan untuk pindah ke Universitas Baghdad di Irak, sebuah negara yang saat itu sedang berkembang pesat di bidang pendidikan dan budaya. Di sana, dia berhasil menyelesaikan studinya pada tahun 1970 dengan gelar sarjana Studi Islam.

4. Megawati

Megawati Soekarnoputri, putri dari presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno, adalah presiden wanita pertama yang memimpin negeri ini. Meskipun beliau tidak menamatkan pendidikan formalnya di Fakultas Pertanian Unpad dan Fakultas Psikologi UI, beliau tetap mengukir prestasi di bidang politik dan sosial.

Sebagai penghargaan atas jasa-jasanya, beliau mendapatkan gelar doktor kehormatan dari berbagai universitas ternama di dalam dan luar negeri. Beberapa di antaranya adalah Unpad pada tahun 2016, Universitas Waseda di Tokyo, Jepang, Korea Maritime and Ocean University, Moscow State Institute of International Relation, dan terakhir Universitas Negeri Padang pada tahun 2017. Gelar-gelar ini menunjukkan pengakuan dunia terhadap kontribusi Megawati Soekarnoputri bagi Indonesia dan kemanusiaan.

5. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

SBY adalah seorang intelektual yang tidak hanya mengandalkan kemampuan militernya, tetapi juga menuntut ilmu di bidang akademik. Pada tahun 2004, beliau berhasil meraih gelar doktor di bidang Ekonomi Pertanian dari IPB, sebuah universitas terkemuka di Indonesia. Disertasinya berjudul “Pembangunan Pertanian dan Kesejahteraan Petani: Studi Kasus Kabupaten Pacitan, Jawa Timur”. Dalam penelitiannya, beliau mengkaji berbagai faktor yang mempengaruhi kinerja dan kesejahteraan petani di daerah asalnya.

Sebelum menjadi doktor, SBY telah menempuh berbagai pendidikan militer baik di dalam maupun luar negeri. Pada tahun 1973, beliau lulus dari Akabri dengan predikat terbaik dan mendapatkan penghargaan Adhi Makayasa dan Tri Sakti Wiratama. Pada tahun 1976, beliau mengikuti American Language Course di Lackland, Texas, AS untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisnya. Selain itu, beliau juga mengambil Airbone and Ranger Course di Fort Benning, AS untuk melatih keterampilan tempur dan kepemimpinannya. Pada tahun 1982-1983, beliau kembali ke Fort Benning untuk mengambil Infantry Officer Advanced Course yang merupakan pendidikan lanjutan bagi perwira infanteri.

6. Joko Widodo

Jokowi, presiden Indonesia yang populer dengan gaya blusukannya, adalah seorang sarjana kehutanan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), salah satu universitas terbaik di Indonesia. Dia menyelesaikan studinya di Fakultas Kehutanan pada tahun 1985 dengan nilai akademik yang baik.

Dari ilmu yang dipelajarinya, dia mengembangkan usaha di bidang mebel dengan nama CV Roda Jati. Usaha ini berawal dari modal pinjaman sebesar 10 juta rupiah dan berkembang menjadi salah satu eksportir mebel terbesar di Indonesia. Jokowi juga menerapkan ilmu kehutanan dalam kebijakan-kebijakannya sebagai presiden, seperti program penghijauan, penanaman pohon, dan perlindungan hutan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *